Saturday, April 19, 2014

pengertian gagal jantung

Pengertian CHF 

Penyakit Gagal Jantung yang dalam istilah medisnya disebut dengan "Heart Failure atau Cardiac Failure", merupakan suatu keadaan darurat medis dimana jumlah darah yang dipompa oleh jantung seseorang setiap menitnya {curah jantung (cardiac output)} tidak mampu memenuhi kebutuhan normal metabolism tubuh. Gagal jantung (GJ) adalah sindrom klinis (sekumpulan tanda dan gejala), ditandai oleh sesak napas dan fatik (saat istirahat atau saat aktivitas) yang Disebabkan oleh kelainan struktur atau fungsi jantung.

Etiologi 

Penyebab gagal jantung dapat diklasifikasikan dalam enam kategori utama, yaitu:  

  1. Kegagalan yang berhubungan dengan abnormalitas miokard, dapat disebabkan oleh hilangnya miosit (infrak miokard, kontraksi yang tidak terokoordinasi (left bundle branch block), kurangnya kontraktilitas (kardiomiopati)).
  2. Kegagalan yang berhubungan dengan overload (hipertensi)
  3. Kegagalan yang berhubungan dengan katup
  4. Kegagalan yang disebabkan abnormalitas ritme kardiak (takikaro)
  5. Kegagalan yang disebabkan anormalitas perikard atau efusi perikard (temponade)
  6.  Kelainan kongenital jantung
Faktor resiko

Faktor risiko juga dapat digolongkan menjadi 2 kategori lain yang berbeda, yakni faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi. Beberapa faktor risiko yang sering ditemukan antara lain kadar kolesterol darah tinggi, kadar LDL (Low Density Lipoprotein) tinggi, kadar trigliserida tinggi, hipertensi, diabetes, obesitas, aktivitas fisik yang kurang, serta merokok. Semua faktor risiko tadi merupakan faktor risiko yang dapat dikontrol, baik dengan perubahan gaya hidup maupun medikasi. Sedangkan usia tua, jenis kelamin wanita dan riwayat penyakit jantung pada keluarga merupakan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi.

pengertian Infark Miokard Akut

A.           Pengertian
Serangan Jantung (infark miokardial) adalah suatu keadaan dimana secara tiba-tiba terjadi pembatasan atau pemutusan aliran darah ke jantung, yang menyebabkan otot jantung (miokardium) mati karena kekurangan oksigen. Proses iskemik miokardium lama yang mengakibatkan kematian (nekrosis) jaringan otot miokardium tiba-tiba. Infark Miokard Akut (IMA) adalah nekrosis miokard akibat aliran darah ke otot jantung terganggu.
Menurut Brunner & Sudarth, 2002 infark miokardium mengacu pada proses rusaknya jaringan jantung akibat suplai darah yang tidak adekuat sehingga aliran darah koroner berkurang.Sedangkan pengertian menurut Suyono, 1999 infark miokard akut atau sering juga disebut akut miokard infark adalah nekrosis miokard akibat aliran darah ke otot jantung terganggu.
Akut Miokard Infark adalah penyakit jantung yang disebabkan oleh karena sumbatan pada arteri koroner (Hudak & Galo ; 1997). Sumbatan akut terjadi oleh karena adanya aterosklerotik pada dinding arteri koroner sehingga menyubat aliran darah ke jaringan otot jantung.
Infark Miokard Akut adalah oklusi koroner akut disertai iskemia yang berkepanjangan yang pada akhirnya menyebabkan kerusakan sel dan kematian (infark) miokard. Iskemia sendiri merupakan suatu keadaan transisi dan reversible pada miokard akibat ketidakseimbangan antara pasokan dan ke butuhan miokard yang menyebabkan hipoksia miokard.1, 6

B.           Etiologi
              Serangan jantung (AMI) biasanya terjadi jika suatu sumbatan pada arteri koroner menyebabkan terbatasnya atau terputusnya aliran darah ke suatu bagian dari jantung.Jika terputusnya atau berkurangnya aliran darah ini berlangsung lebih dari beberapa menit,maka jaringan jantung akan mati.Kemampuan memompa jantung setelah suatu serangan jantung secara langsung berhubungan dengan luas dan lokasi kerusakan jaringan (infark).
Jika lebih dari separuh jaringan jantung mengalami kerusakan, biasanya jantung tidak dapat berfungsi dan kemungkinan terjadi kematian. Bahkan walaupun kerusakannya tidak luas, jantung tidak mampu memompa dengan baik, sehingga terjadi gagal jantung atau syok Jantung yang mengalami kerusakan bisa membesar, dan sebagian merupakan usaha jantung untuk mengkompensasi kemampuan memompanya yang menurun (karena jantung yang lebih besar akan berdenyut lebih kuat). Jantung yang membesar juga merupakan gambaran dari kerusakan otot jantungnya sendiri. Pembesaran jantung setelah suatu serangan jantung memberikan prognosis yang lebih buruk.
 
C.            Faktor resiko
Infark Miokard Akut lebih banyak terjadi pada pria dibandingkan
dengan wanita. Penyakit jantung koroner merupakan salah satu faktor resiko yang sering terjadi pada infark miokard, selain itu faktor resiko yang menyebabkan infark miokard seperti hipertensi, dislipidemia, diabetes. Sejumlah faktor resiko lain yang berkaitan dengan gaya hidup pada penyakit jantung koroner juga dapat menjadi faktor resiko dari infark miokard seperti stres, obesitas, merokok, dan kurangnya aktivitas fisik.
Infark Miokard Akut dengan elevasi gelombang ST ( STEMI ) pada pemeriksaan Ekokardiografi umumnya terjadi jika aliran darah koroner menurun secara mendadak setelah oklusi trombus pada plak aterosklerotik yang sudah ada sebelumnya. Stenosis arteri koroner berat yang berkembang secara lambat biasanya tidak memicu STEMI karena berkembangnya banyak kolateral sepanjang waktu, STEMI terjadi jika trombus arteri koroner terjadi secara cepat pada lokasi injuri ini dicetuskan oleh faktor-faktor seperti merokok, hipertensi, dan akumulasi lipid. 8, 11
 
 D.           Patofisiologi
Kebanyakan pasien dengan infark miokard akut mencari pengobatan karena rasa sakit didada. Namun demikian ,gambaran klinis bisa bervariasi dari pasien yang datang untuk melakukan pemeriksaan rutin, sampai pada pasien yang merasa nyeri di substernal yang hebat dan secara cepat berkembang menjadi syok dan eadem pulmonal, dan ada pula pasien yang baru saja tampak sehat lalu tiba-tiba meninggal. Serangan infark miokard biasanya akut, dengan rasa sakit seperti angina,tetapi tidak seperti angina yang biasa, maka disini terdapat rasa penekanan yang luar biasa pada pappa atau perasaan akan datangnya kematian. Bila pasien sebelumnya pernah mendapat serangan angina ,maka ia prejudice bahwa sesuatu yang berbeda dari serangan angina sebelumnya sedang berlangsung. Juga, kebalikan dengan angina yang biasa, infark miokard akut terjadi sewaktu pasien dalam keadaan istirahat ,sering pada jam-jam awal dipagi hari. Nitrogliserin tidaklah mengurangkan rasa sakitnya yang bisa kemudian menghilang berkurang dan bisa pula bertahan berjam-jam malahan berhari-hari.
Nausea dan vomitus merupakan penyerta rasa sakit tsb dan bisa hebat, terlebih-lebih apabila diberikan martin untuk rasa sakitnya.Rasa sakitnya adalah diffus dan bersifat mencekam, mencekik, mencengkeram atau membor. Paling nyata didaerah subternal, dari mana ia menyebar kedua lengan, kerongkongan atau dagu, atau abdomen sebelah atas (sehingga ia mirip dengan kolik cholelithiasis, cholesistitis akut ulkus peptikum akut atau pancreatitis akut) Terdapat laporan adanya infark miokard tanpa rasa sakit. Namun hila pasien-pasien ini ditanya secara cermat, mereka biasanya menerangkan adanya gangguan pencernaan atau rasa benjol didada yang samar-samar yang hanya sedikit menimbulkan rasa tidak enak/senang. Sekali-sekali pasien akan mengalami rasa napas yang pendek (seperti orang yang kelelahan) dan bukanya tekanan pada substernal.Sekali-sekali bisa pula terjadi cekukan/singultus akibat irritasi diapragma oleh infark dinding inferior. pasien biasanya tetap sadar ,tetapi bisa gelisah, cemas atau bingung.
Syncope adalah jarang, ketidak sadaran akibat iskemi serebral, sebab cardiac output yang berkurang bisa sekali-sekali terjadi.Bila pasien-pasien ditanyai secara cermat, mereka sering menyatakan bahwa untuk masa yang bervariasi sebelum serangan dari hari 1 hingga 2 minggu ) ,rasa sakit anginanya menjadi lebih parah serta tidak bereaksi baik tidak terhadap pemberian nitrogliserin atau mereka mulai merasa distres/rasa tidak enak substernal yang tersamar atau gangguan pencernaan (gejala -gejala permulaan /ancaman /pertanda). Bila serangan-serangan angina menghebat ini bisa merupakan petunjuk bahwa ada angina yang tidak stabil (unstable angina) dan bahwasanya dibutuhkan pengobatan yang lebih agresif.
Bila diperiksa, pasien sering memperlihatkan wajah pucat bagai abu dengan berkeringat , kulit yang dingin .walaupun bila tanda-tanda klinis dari syok tidak dijumpai. Nadi biasanya cepat, kecuali bila ada blok/hambatan AV yang komplit atau inkomplit. Dalam beberapa jam, kondisi klinis pasien mulai membaik, tetapi demam sering berkembang. Suhu meninggi untuk beberapa hari, sampai 102 derajat Fahrenheid atau lebih tinggi, dan kemudian perlahan-lahan turun ,kembali normal pada akhir dari minggu pertama.
Dua jenis kelainan yang terjadi pada IMA adalah komplikasi hemodinamik dan aritmia. Segera setelah terjadi IMA daerah miokard setempat akan memperlihatkan penonjolan sistolik (diskinesia) dengan akibat penurunan ejection fraction, isi sekuncup (stroke volume) dan peningkatan volume akhir distolik ventrikel kiri. Tekanan akhir diastolik ventrikel kiri naik dengan akibat tekanan atrium kiri juga naik. Peningkatan tekanan atrium kiri di atas 25 mmHg yang lama akan menyebabkan transudasi cairan ke jaringan interstisium paru (gagal jantung). Pemburukan hemodinamik ini bukan saja disebakan karena daerah infark, tetapi juga daerah iskemik di sekitarnya. Miokard yang masih relatif baik akan mengadakan kompensasi, khususnya dengan bantuan rangsangan adrenergeik, untuk mempertahankan curah jantung, tetapi dengan akibat peningkatan kebutuhan oksigen miokard. Kompensasi ini jelas tidak akan memadai bila daerah yang bersangkutan juga mengalami iskemia atau bahkan sudah fibrotik. Bila infark kecil dan miokard yang harus berkompensasi masih normal, pemburukan hemodinamik akan minimal. Sebaliknya bila infark luas dan miokard yang harus berkompensasi sudah buruk akibat iskemia atau infark lama, tekanan akhir diastolik ventrikel kiri akan naik dan gagal jantung terjadi. Sebagai akibat IMA sering terjadi perubahan bentuk serta ukuran ventrikel kiri dan tebal jantung ventrikel baik yang terkena infark maupun yang non infark.
Perubahan tersebut menyebabkan remodeling ventrikel yang nantinya akan mempengaruhi fungsi ventrikel dan timbulnya aritmia.  
Perubahan-perubahan hemodinamik IMA ini tidak statis. Bila IMA makin tenang fungsi jantung akan membaik walaupun tidak diobati. Hal ini disebabkan karena daerah-daerah yang tadinya iskemik mengalami perbaikan. Daerah-daerah diskinetik akibat IMA akan menjadi akinetik, karena terbentuk jaringan parut yang kaku. Miokard sehat dapat pula mengalami hipertropi. Sebaliknya perburukan hemodinamik akan terjadi bila iskemia berkepanjangan atau infark meluas. Terjadinya penyulit mekanis seperti ruptur septum ventrikel, regurgitasi mitral akut dan aneurisma ventrikel akan memperburuk faal hemodinamik jantung. Aritmia merupakan penyulit IMA tersering dan terjadi terutama pada menit-menit atau jam-jam pertama setelah serangan. Hal ini disebabkan oleh perubahan-perubahan masa refrakter, daya hantar rangsangan dan kepekaan terhadap rangsangan. Sistem saraf otonom juga berperan besar terhadap terjadinya aritmia. Pasien IMA inferior umumnya mengalami peningkatan tonus parasimpatis dengan akibat kecenderungan bradiaritmia meningkat, sedangkan peningkatan tonus simpatis pada IMA inferior akan mempertinggi kecenderungan fibrilasi ventrikel dan perluasan infark.

E.            Komplikasi
      1.      Aritmia
Karena aritmia lazim ditemukan pada fase akut IMA, Hal ini dapat pula dipandang sebagai bagian perjalanan penyakit ima. Aritmia perlu diobati bila menyebabkan gangguan hemodinamik, meningkatkan kebutuhan oksigen miokard dengan akibat mudahnya perluasan infack atau bila merupakan predisposisi untuk terjadinya aritmia yang lebih gawat seperti takikardia ventrikel, fibrilasi ventrikel atau asistol. Di lain pihak kemungkinan efek samping pengobatan juga harus dipertimbangkan. Karena prevalensi aritmia terutama tersering pada 24 jam pertama sesudah serangan dan banyak berkurang pada hari-hari berikutnya, jelaslah pada hari pertama IMA merupakan masa-masa terpenting. Dalam kenyataannya penurunan angka-angka kematian IMA pada era permulaan CCU terutama disebabkan karena pengobatan dan pencegahan aritmia yang efektif di unit perawatan intensif penyakit jantung koroner.

      2.      Bradikardia Sinus
Umumnya disebabkan oleh vagotonia dan sering menyertai IMA inferior atau posterior. Bila hal ini menyebabkan keluhan hipotensi, gagal jantung atau bila disertai peningkatan intabilitas ventrikel diberi pengobatan dengan sulfas atropin intravena.

      3.      Irama Nodal
Irama nodal umumnya timbul karena protective escape mechanisme dan tak perlu diobati, kecuali bila amat lambat serta menyebabkan gangguan hemodinamik. Dalam hal terakhir ini dapat diberi atropin atau dipasang pacu jantung temporer.
      4.      Asistolik
Pada keadaan asistolik harus segera dilakukan resusitas kardiopulmonal serebral dan dipasang pacu jantung transtorakal. Harus dibedakan dengan fibrilasi ventrikel halus karena pada belakangan ini defribrilasi dapat menolong. Pemberian adrenalin dan kalsium klorida atau kalsium glukonas harus dicoba.

      5.      Takikardia Sinus
Takikardia sinus ditemukan pada sepertiga kasus IMA dan umumnya sekunder akibat peningkatan tonus saraf simpatis, gagal jantung, nyeri dada, perikarditis dan lain-lain. Pengobatan ditujukan kepada kelainan dasar. Sering berhasil hanya dengan memberi obat analgesik. Takikardia sinus yang menetap akan meningkatan kebutuhan oksigen miokard dan menyebabkan perluasan infark.

      6.      Kontraksi Atrium Prematur
Bila kontraksi atrium prematur jarang, pengobatan tidak perlu. Kontraksi atrium prematur dapat sekunder akibat gagal jantung atau dalam hal ini pengobatan gagal jantung akan ikut menghilangkan kontraksi tersebut.

F.             Pemeriksaan penunjang
       1.      Elektrokardiografi
Perubahan elektro kardiogram(EKG)cukup spesifik,tetapi tidak peka untuk  diagnosis IMA pada fase yang masih dini.penting diperhatikan evolusi  kelainan EKG(table 1).berdasarkan kelainan EKG IMA dibagi atas IMA dengan gelombang Q (biasanya di tulis IMA saja) dan IMA non ngelombang Q (biasanya ditulis IMA-non C). Pada IMA gelombang Q mula-mula terjadi elevansi segmen ST yang konveks pada hantaran yang mencerminkan daerah IMA.kadang-kadang hal ini baru terjadi beberapa jam setelah serangan.Depresi segmen ST yang resiprokal terjadi pada hantaran yang berlawanan.elevasi segmen ST kemudian diikuti oleh terbentuknya gelombang Q patologis yang menunjukan ima transmural.hal ini terjadi pada 24 jam pertama IMA.berikutnya elevasi segmen ST akan berkurang dan gelombang T  menjadi  terbalik (inversi). Keduanya dapat menjdi normal setelah beberapa hari atau minggu,tetapi gelombang T tetap datar dan bila elevasi segmen ST menetap dapat dipikirkan terjadinya aneurisma ventrikel. Gelombang T hiper akut ini cepat menghilang karena kelainan gelombang  T segera diikuti oleh elevasi segmen ST,sehingga jarang ditemukan pada rekaman EKG pertama kali setelah serangan. Secara kasar,luas IMA anterior dapat diperkirakan berdasarkan banyaknya hantaran yang memperlihatkan kelinan klasik IMA anterior (hantaran 1,aVL,V1,sampai V6).sebaliknya tidak berlaku untukIMA anterior (hantaran II, III,aVF).IMA anterior dikatakan septal bila kelainan ditemukan pada hantaran V1-V2,anterior bila kelainan ditemukan pada hantaran V3-V4,  anteroseptal bila kelainan ditemukan pada hantaran  V1-V4 antreolateral bila kelainan ditemukan pada hantaran 1, aVL, V5 dan V6 anteror luas bila ditemukan pada hantaran 1, aVL, V1 sampai V6.dan  anterolateral  tinggi  bila kelainan terbatas  pada hantaran 1 dan aVL. pada  IMA posterior murni tampak gelombang R yang tinggi pada hantaran V1-V2 dan gelombang Q patologis pada hantaran posterior ( V7-V9).IMA ventrikel kanan memperlihatkan kelainan EKG pada hantaran II, III, aVF, V3R dan V4R.
Pada IMA non Q tidak ada geklombang Q patologis hanya hanya dijumpai depresi segmen ST dan inverse simetrik gelombang T. korelasi kelainan EKG dan IMA transmural tidak sangat baik. IMA transmural sering dijumpai bila EKG memperlihatkan gelombang Q patologis atau penurunan voltase  gelombang R.pada IMA subendokardial bisa dijumpai kelainan EKG berupa gelombang Q  patologis atau hanya perubahan segmen ST atau gelombang T.oleh karena itu penamaan IMA  yang rasional pada masa sekarang adalah IMA dan gelombang Q dan IMA non gelombang Q dari pada penamaan IMA transmuaral dan subendokardial.doagnosis IMA  secara EKG menjadi sulit bila ditemukan sindrom wolff. Frankinson-white,kardiomiopati hipertrofik obstruktif,hipertrofi ventrikel kiri  yang prominen dan emboli paru.IMA dapat terjadi tanpa disertai perubahan EKG yang berarti.
                                                                                        
   2.      LABORATURIUM
 peningkatan kadar enzim atau isoenzim merupakan indikator  spesifik IMA.pada IMA enzim-enzim intrasel ini dikeluarkan  kedalm aliran darah. Kadar total enzim-enzim ini mencerminkan luas IMA.pemeriksaan yang berulang diperlukan apalagi  bila diagnosis IMA diragukan atau untuk mendeteksi perluasan IMA. Enzim–enzim terpenting ialah keratin fosfokinase atau aspartat amino tranferase (SGOT).laktat dehirogenase ( alfa-HBDH),dan isoenzim CPK –MB (CK-MB).barbeda dengan SGOT dan LDH,nilai CPK tidak dipengaruhi oleh adanya  bendungan hati, sehingga lebih diagnostic untuk IMA.walu demikian CPK terdapat banyak pada otot rangka , sehingga kadarnya dapat meningkatkan pada trauima otot seperti akibat guntikan intramuscular,kardiversi atau devibrilasi yang berlainan.pemeriksaan isoenzim CPK-MB lebih mendekati diagnosis, kerene bila tidask dilakukan kardi versi berulang –ulng peningkatan isoenzim ini spesifik untuk kerusakan otot jantung.CPK dan CPK-MB akan menentukan diagnosis kira-kira 6 jam setelah serangan IMA, mencapai puncak setelah 24 jam dan kembali normal setelah 1 ½ - 2 hari.
SGOT ditemukan di jantung,hati,ginjal,rangka dan otak.SGOT meningkatkan pada  bendungan hati akibat gagal jantung,pada IMA,SGOT meningkatkan setelah 8-12 jam,mencapai puncak setelah 36-48 jam dan kembali normal 2 hari sampai 4 hari.
LDH amat tidak spesifik dan meninggi bila ada kerusakan banyak jaringan tubuh.LDH meningkat setelah 24 jam.mencapai puncak setelah 48-72 jam dan menjadi normal setelah 7-10 hari.

G.           Penatalaksanaan
1.        Istirahat total.
2.        Diet makanan lunak/saring serta rendah garam (bila gagal jantung).
3.        Pasang infus dekstrosa 5% untuk persiapan pemberian obat intravena.
4.        Atasi nyeri
a.         Morfin 2,5-5 mg iv atau petidin 25-50 mg im, bisa diulang-ulang.
b.         Lain-lain : nitrat, antagonis kalsium, dan beta bloker.
c.         oksigen 2-4 liter/menit.
d.        sedatif sedang seperti diazepam 3-4 x 2-5 mg per oral. Pada
        insomnia dapat    ditambah flurazepam 15-30 mg.
5.        Antikoagulan
a.         Heparin 20.000-40.000 U/24 wad iv tiap 4-6 wad atau drip iv dilakukan atas indikasi
b.         Diteruskan asetakumoral atau warfarin
c.         Streptokinase / trombolisis
6.        Pengobatan ditujukan sedapat mungkin memperbaiki kembali aliran pembuluh darah koroner. Bila ada tenaga terlatih, trombolisis dapat diberikan sebelum dibawa ke rumah sakit. Dengan trombolisis, kematian dapat diturunkan sebesar 40%.
7.         Morfin
Morfin sangat efektif mengurangi nyeri. Dosis 2-4 mg dan dapat diulang dengan interval 5-15 menit sampai dosis total 20 mg. Efek samping : konstriksi vena dan arteriolar melalui penurunan simpatis, sehingga terjadipooling vena yang akan mengurangi curah jantung dan tekanan arteri.1,4
8.        Penyekat beta
Tujuan pemberian penyekat beta adalah memperbaiki keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen miokard, mengurangi nyeri, mengurangi luasnya infark dan menurunkan risiko kejadian aritmia vebtrikel yang serius.1, 4